PAK FARUQ NGOBROL DI TELPON
- Kalau ada ‘Kejuaraan mengurus pembangunan pondok pesantren Annuqayah Latee I sebagai abdi dhalem’, saya mengusulkan nama ini: Umar Faruq.
- Dulunya ia kuliah prodi Akhlak Tasawuf di Instika, kampus di Annuqayah yang salah satu pendirinya adalah KH. Abd. Basith AS, kiai sepuh yang pada beliau Pak Faruq mengabdi. Semester VI Pak Faruq berhenti kuliah. Penyebabnya, “Ya karena memang harus milih,” katanya.
- Ia memang aktivis pembangunan gedung pesantren di Latee I. Lebih sering ngabdinya ketimbang kuliahnya. Kalau sudah kadung nyantri, santri ya begitu.
- Boleh dikata, dari semua pembangunan gedung yang rata-rata sudah diperbaharui di Latee I, Pak Faruq ini ikut andil. Terutama dalam pembiayaannya. Apalagi sekarang Pak Faruq menjadi santri yang paling dituakan, paling dijempolkan, dan paling diutamakan oleh pengasuh untuk beberapa urusan, terlebih pembangunan.
- Seorang kawan saya pernah bertanya, “SPP Latee I itu berapa? Kok kayak gak mau bangun kalau gak tiga lantai.” Dalam hati saya jawab, tanya Pak Faruq sana. Saya mana ngerti urusannya. Setau saya, sejak tahun pertama menginjakkan kaki di pesantren, saya tidak pernah diminta-minta soal uang pembangunan. Sama sekali!
- Lha terus, biaya pembangunannya dari mana? Sekali lagi saya jawab, tanya Pak Faruq! Hingga saat ini, pembangunan gedung di bagian timur belum selesai semua, tinggal finishing cat tembok dan jendela-jendela, sementara ‘anak buah’ Pak Faruq sudah epakon Kiai untuk menggusur bangunan tua di sebelah utara.
- Dalam proses pembangunan itu, Pak Faruq dibantu beberapa dermawan yang menyumbangkan sebagian hartanya untuk pembangunan pesantren. Ada yang nyumbang biaya untuk keramiknya, ada yang ngasih kayu, ada alumni sedekah semen, ada yang bagian lampu, ada bagian cat, pasir, tanah, bata, dan masih banyak lagi. Kami sepakat menamai itu barokah Kiai, atau gampangnya itu karena doa para pengasuh.
- “Saya gak tau juga dari mana dapat uangnya. Tiba-tiba ya ada saja jalan keluarnya,” tutur Pak Faruq di telpon. Susah juga menjelaskannya.
- Apakah itu saja cukup? Tentu tidak. Ada lagi biaya yang diperoleh dari pendapatan toko-toko yang dibangun pengasuh khusus untuk meringankan biaya pembangunan pesantren.
- Itu pun belum cukup. Bhindhara masih juga harus menghubungi alumni, beberapa relasi dan wali santri. Nyopre barokah, berderma, dan beramal jariyah. Itu intinya.
- Sampai sekarang model pembangunan gedung Latee 1 masih seperti itu. Tanpa pungutan biaya pembangunan dari santri, tapi pembangunan maju terus pantang mundur. Itulah hasil ‘perjuangan’ Pak Faruq. Hebat. Dalam sejarah hidupnya ia beramal saleh dan mengabdi. Kerennya, tidak semua mau mengabdi dengan susah payah seperti itu. Kuliah seperlunya, ngabdi selelahnya. Dan akhirnya: kuliahnya diputus juga.
- Putus kuliah demi ngurusi pembangunan tanpa finansial yang memadai tentu bukan perkara mudah. Ruwetnya minta ampun. Cukup membuat wajah beberapa tahun lebih tua dari seumurannya. Tapi itulah risikonya. Kehidupan kadang tidak memberikan terlalu banyak pilihan. “Memilah, memilih, kemudian menjadi. Nah, ‘menjadi’ ini adalah rangkaian pertanggungjawaban atas apa yang kita pilih.” Begitu kata Pak Faruq pada saya di telpon.
- “Pernah merasa khawatir atau bingung?” kejar saya. “Jha’ ko’ tako’ mun urusan kabhagusan, Pangiran se bhakal nolong (jangan khawatir, untuk urusan kebaikan Allah yang akan menolong)” suara Pak Faruq menirukan dawuh KH. Abd. Basith yang berpesan kepadanya.
“Jha’ ko’ tako’ mun urusan kabhagusan, Pangiran se bhakal nolong (jangan khawatir, untuk urusan kebaikan Allah yang akan menolong)”
- Saya manggut-manggut. Wah, ini ternyata kunci suksesnya. Modalnya ada tiga: doa, ikhtiar, tawakal. Selesai. Jika sudah merasa tidak mampu, letakkan dulu (pasrahkan tanggung jawab itu kepada Yang Maha Kuasa), istighfar, tempatkan beban itu di dada bukan di kepala. Karena dada akan menerima, tidak hanya berpikir ‘bagaimana’. Lucunya, saking kepikirannya kadang sampai kebawa tidur (mimpi). Itu sudrun. Mau tidur ya dititip dulu. “Patoro’ ka Pangiran (titip pada Tuhan),” katanya sambil tertawa sebelum telpon diputus di menit ke-42.
- Wallahu A’lam
- LAILATUL QOMARIYAH
- Ketua Pengurus Annuqayah Latee I
Pak Faruq Ngobrol di Telpon