Pola Pikir Barokah
untuk Dunia yang Lebih Ramah

  •          Ada sebuah istilah yang populer di kalangan Pesantren, yaitu “Barokah”. Apa itu barokah? Barokah secara leksikal bisa diartikan sebagai bertambahnya kebaikan yang dianugerahkan oleh Allah Swt. Di dunia Pesantren, barokah sering kali dijadikan sebuah orientasi dan/atau motivasi seseorang belajar dan mengabdi di pondok pesantren. Para santri mempunyai keyakinan bahwa belajar atau mengabdi kepada kiai dengan diiringi niat yang benar, hati yang tulus, dan adab yang baik adalah sebuah jalan untuk meraih barokah. Barokah inilah yang dapat mengantarkan santri pada kehidupan yang lebih baik selepas mondok, baik di dunia hingga kelak di akhirat.
  •       Semua santri punya kesempatan yang sama untuk mendapatkan barokah. Tidak penting sebanyak apa ilmu yang kamu dapat, sebanyak apa jasa yang kamu perbuat, kamu tidak berhak menghakimi orang lain bahwa kelak saat boyong dari pesantren nasibnya akan lebih buruk darimu. Justru bisa jadi nasibmu yang lebih buruk darinya. Sebab wilayah barokah bukan wilayah fisik yang kasat mata, ia adalah buah dari batin personal seseorang yang sifatnya sangat intim dan lepas dari penilaian pendek orang lain. Ia adalah bentuk hak prerogatif Tuhan.

“Tidak penting sebanyak apa ilmu yang kamu dapat, sebanyak apa jasa yang kamu perbuat, kamu tidak berhak menghakimi orang lain bahwa kelak saat boyong dari pesantren nasibnya akan lebih buruk darimu. Justru bisa jadi nasibmu yang lebih buruk darinya. “

  •           Ada banyak fakta yang jamak terjadi seputar barokah. Seorang santri, misalnya, meraih banyak prestasi saat di pesantren, namun ketika kembali ke masyarakat ia sama sekali tidak diperhitungkan, justru ilmu yang diperoleh tidak bermanfaat kepada orang lain, karena ada yang bermasalah dengan motivasi belajarnya, misalnya ia belajar sungguh-sungguh hanya untuk popularitas dan kepentingan sempit lainnya. Sebaliknya ada santri yang nampaknya tidak begitu cerdas, tapi semangat pengabdiannya begitu tinggi kepada pesantren, justru saat pulang ke masyarakat hidupnya mapan dan meskipun sedikit ilmunya sangat bermanfaat untuk orang lain di sekitarnya. Pola pikir demikian tertanam sejak dulu di kalangan santri yang pada ujungnya mengantarkan kepada sebuah kearifan, bahwa kita tidak berhak menghakimi orang lain hanya pada sebatas apa yang tampak oleh mata.
  •            Nah, kaitannya dengan isu perdamaian dunia, kita tahu bahwa salah satu kabar mutakhir tentang upaya yang merongrong perdamaian dunia seringkali muncul disebabkan oleh individu atau kelompok yang mengklaim dirinya atau kelompoknya yang paling benar, sementara yang lain salah. Klaim ini ujung-ujungnya mengarah pada sikap eksklusif, tindak intoleransi, bahkan persekusi hingga intimidasi. Seperti yang beberapa tahun terakhir terjadi di beberapa negara timur tengah, negeri yang semula damai dan aman, secara perlahan menjadi hancur dan tidak nyaman untuk dihuni akibat kelompok ideologis yang gemar mengkafirkan orang lain hanya karena cara beragamanya tidak sama dengan kelompoknya dan menurut penilaian kelompok tersebut salah. Ketika sudah dengan mudah mengkafirkan orang lain, maka yang muncul adalah cap neraka, lalu sikap selanjutnya adalah bahwa orang kafir harus dikucilkan, dijauhi, dimusuhi, bahkan boleh diperangi dan dibasmi.
  •        Belajar dari keyakinan terhadap barokah, pesan yang ingin kami sampaikan tentang perdamaian terutama terkait isu yang baru saja kami sebutkan, marilah kita jangan mengklaim paling benar sendiri, sebaik apapun yang kita perbuat, semapan apapun ideologi yang kita yakini, kita tidak berhak dan tidak dibenarkan untuk menghakimi orang lain. Falaa tuzakkuu anfusakum (jangan kalian merasa sok suci). Sebab sejatinya kehidupan semua orang adalah sebuah proses panjang yang kita tidak pernah ketahui akhirnya. Seperti halnya seorang santri tidak boleh meremehkan santri lain yang dikenal sering melanggar aturan, bisa jadi di kemudian hari ia menginsafi perbuatannya dan selepas dari pesantren justru menjadi lebih baik. Seseorang yang sebelumnya kita cap jelek bahkan kafir, bisa jadi di kemudian hari lebih baik dari kita dan lebih layak untuk masuk surga. Pola pikir seperti ini, seperti yang sering diutarakan oleh Gus Baha’, sangat mendukung pada sikap terbuka, toleran, dan santun. Dengan demikian, harapan akan dunia yang damai, aman, dan nyaman menemukan pelabuhannya.

 

walLaahu a’lam…

 

  •    ALFAN SHIDQON
  •    Admin a latee media, freelancer.
Pola Pikir Barokah Untuk Dunia yang Lebih Ramah