RUPA-RUPA BAHASA

  • (Sebuah pembacaan terhadap teater  pesantren hari ini)
  •  
  • Nuril S. Zaini sutradara dari pertunjukan Rupa Simulakra membuat napas baru dalam pertunjukan sanggar ANDALAS yang berlangsung pada 06 Februari 2020. Niat membuat pertunjukan bukan semata-mata hanya sebatas mengisi kegiatan kosong dalam pikirannya. Teks-teks mulai ditulis, baik teks yang bekerja sebagai objek maupun subjek. Ditambah dengan beberapa kekonyolan hidup yang berada di sekitarnya membuat dirinya semakin bergairah mencari ide-ide dan pengalaman yang berlalu sebagai bekal dalam kerja teaternya. Simulakra berarti sebuah penandaan dari berbagai elemen yang dianggap sebuah fiktif, retoris dan palsu. Namun ia menghantui rupa-rupa tubuh kita.
  •  
  • Revolusi terjadi di sebuah panggung pertunjukan, bukan di kamar mandi, bukan di kolong sampah, bukan dari sebuah ruang makan yang mereka sambangi setiap waktu. Narasi-narasi pertunjukan dan dramatika tubuh telah diturunkan dari bahan-bahan mentah. Ia hadir seperti memukuli kepala sendiri. Cerita yang dibangun dari suara-tubuh aktor adalah sebuah kesunyian yang berbakti kepada realitas.
  •  
  • Sejak awal pertunjukan ini dimulai sudah menandakan bahwa dunia pesantren mengalami yang namanya pergeseran makna. Dibumbui dari beberapa temuan-temuan ide untuk menyesuaikan dengan kejadian yang berlangsung. Bagaimana seorang Nuril membuat cerita? Bagaimana aktor harus memilih masuk dari mana ketika pertama kali memasuki panggung? Bagaimana tubuh seharusnya berkereasi? Bagaimana seorang sutradara mengambil keputusan untuk meletakkan benda-benda di atas panggung?  bagaimana seorang aktor merasakan apakah ia sedang melangkah, berjalan atau bergerak?. Pertanyaan-pertanyaan boleh datang kepada seni, jangan ada yang ditolak.
  •  
  • Bagaimana jawaban itu semua? Sebuah kontstruksi dari keyakinan yang sedang dijalankan dari sebuah kelompoknya Nuril dalam berkesenian. Sesuatu yang mungkin akan memperkaya kualitas kehidupan publik untuk membaca perbedaan dalam kerangka politik tubuh dan kata. Sesuatu lain bisa saja berangkat dari pengalaman masalalu yang terus bekerja dalam otak seorang Nuril dan kawan-kawannya.
  •  
  • Tidurlah nak. Redalah nak jangan ganggu tidur bapak ia sedang istirahat setelah bekerja berat. Kalimat-kalimat ini jatuh dari suara Ovi. Berulang-ulang ia menyeru. Sebuah penandaan bagaimana pertunjukan ini akan berjalan menuju cerita rupa-rupa simulakra tersebut. Namun bagaimana konflik itu teratur dan komplet dalam sebuah strurktur pertunjukan? Ini adalah tantangan seorang sutradara sebagai peracik dalam pertunjukannya, sebagaimana ucapan Suyatna Anirun dalam tulisannya yang berjudul “pengantar kepada seni peran”, konflik adalah sebagai inti teater (pertunjukan) di mana peristiwa dan suasana didorong dan berkembang melalui konflik. Konflik dipandang menjadi semacam momen untuk mendapatkan katarsis atau solusi dari plot yang dikandung naskah, dan akting seorang Ovi tersebut bisa menjalankan prosedur personifikasi dari plot itu sendiri. Peran merupakan sumber utama untuk plot, sebab kejadian-kejadian dapat dikembangkan terutama melalui ucapan dan tingkah laku para peran itu.
  •  
Pesantren dan Teater
  • Bagaimana teater lahir dan berkembang dalam tubuh pesantren, bagaiaman awal mula tetaer bekerja dalam tubuh santri, saya tidak bisa memberi pengetahuan secara ilmiah dalam menjawab pertanyaan tersebut, namun secara anggapan bisa dikatakan sebagai penanda bahwa pesantren merupakan sebuah elemen besar yang bisa memberikan apa pun terhadap keberlangsungan hidup. Pesantren bukan hanya sebatas ruang yang memuat kajian-kajian keagamaan, bukan pula tempat di mana santri setiap detiknya mengaji. di dalamnya ada banyak cabang dan unsur yang perlu digali dan dimasuki bersama, sebuah perayaan untuk menyambut hari kelak. Tidak heran jika pesantren melahirkan beberapa orang yang tidak hanya mahir dalam kitab turast belaka, karena di dalamnya segala unsur tidak pernah ditolak, selagi hal tersebut bisa menimbulkan hasil yang tidak menyimpang dalam nilai-nilai pesantren maupun agama.
  •  
  • Kembali pada awal sebagai seseorang yang menonton pertunjukan (sebut saja teater), sebagaimana cerita yang dibangun dari seorang Ovi, melambangkan bagaimana di luar (pesantren) perubahan-perubahan merambat ke arah yang lebih dalam. Upaya-upaya dari orangtua untuk menyelamatkan anak biologisnya salahsatu cara terampuh adalah meletakkannya kedalam tubuh pesantren, namun yang terjadi sebaliknya, harapan-harapan itu hanya semu. Bagaimana jika kemerosotan itu lahir dari anak (santri) yang hidup dan berproses dalam dunia teater, bagaimana teater cara menghadapinya, bagaimana sikap pertunjukan rupa simulakra ini, semoga anggapan ini miring dan ditepis oleh teater pesantren. Siapa yang perlu dibantah dalam cerita ini, teater atau pesantren? dua-duanya mempunyai otoritas yang sama, tidak ada yang perlu disalahkan.

“Pesantren bukan hanya sebatas ruang yang memuat kajian-kajian keagamaan, bukan pula tempat di mana santri setiap detiknya mengaji. di dalamnya ada banyak cabang dan unsur yang perlu digali dan dimasuki bersama, sebuah perayaan untuk menyambut hari kelak. Tidak heran jika pesantren melahirkan beberapa orang yang tidak hanya mahir dalam kitab turast belaka, karena di dalamnya segala unsur tidak pernah ditolak, selagi hal tersebut bisa menimbulkan hasil yang tidak menyimpang dalam nilai-nilai pesantren maupun agama.”

Ruang Rupa
  • Sound system merupakan fenomina “spiker gila” dalam sebagian besar masyarakat Indonesia yang menghancurkan telinga bersama kita maupun telinga personal kita.  hal itu bereratan dan bekerja dengan yang disebut ruang. Ruang dalam pandangan Afrizal dipetak menjadi ruang publik dan ruang domestik. Dua-duanya mempunyai batasan. Bagaiamana pertunjukan ini menempelkan ruang sebagai alat permainan tunggal dalam keberlangsungan sebuah pementasan, pertimbangan yang belum matang dan tidak terukur dalam skala ruang pertunjukan. Suara-suara datang tanpa batas dalam ruang pertunjukan, layaknya sebuah stasiun bus. Ini yang mungkin belum bisa dipertimbangkan, selain unsur-unsur lainnya.
  •  
  • Tiba-tiba teater menjadi rupa hidup saya, seakan-akan tubuh merasa erat dari kerancuan-kerancuan pola pikir selama ini. Setelah rupa panggung menyihir pikiran dari berbagai benda-benda yang hadir di atas panggung. Bunyi-bunyi lahir dari beberapa aktor yang tidak stabil dalam memerankan tokoh yang memang tidak jauh dari pengalaman sehari-hari sang aktor. Ini yang disebut Afrizal sebagai teater teks yang bekerja dalam tubuhnya, ada politik makna-tubuh dalam aktor tersebut, belum bisa memberikan makna kepada tubuh keduanya yang sedang memerankan seseorang di luar dirinya.
  •  
Arsitektur Pertunjukan
  • Teater datang serupa bahan yang siap pakai, ia menjumpai tuan-tuannya yang gelisah-resah. Keseluruhan pembacaan dari teks tubuh dan teks-teks tunggal terhadap pertunjukan simulakra adalah bagaimana kecerdasan seorang sutrada menyalurkan teks-teks kedalam tubuh setiap aktor, ini tampak dari tubuh yang tercipta di mata penonton. Wajar saja, selain bekerja dalam dunia pertunjukan, sutradara berangkat dari pengalamannya sebagai seorang penyair. Ini memberikan nampak yang lebih terhadap garapan yang ia kerjakan.
  •  
  • Beberapa pertimbangan dari persepektif arsitektur pertunjukan dalam garapannya, merupakan langkah penting untuk kemajuan rupa-rupa simulakra selanjutnya. Gagasan besar, ide menarik, tapi secara arsitektur panggung dan pertunjukannya sangat melebihi batas, sutradara terlalu berambisi membawa karung besar yang berisi beras, namun nyatanya karung tersebut ternyata bolong. Maka lambat laun kebolongan itu yang membuat pertunjukan ini kehilangan penandaannya. Kehilangan teks-teks dalam tubuhnya, kehilangan peristiwa yang sesungguhnya. Mari menimang-nimang keadaan, majulah teks-tes pesantren. Salam!
  •  

KandanKita 2020

  •  
  •  
  •    ZAMMIL HAMZAH
  •    Ketua SaKSI
Rupa-Rupa Bahasa