Santri dan Pandemi

  • Berbagai postingan dan opini muncul setelah pandemi Covid-19 menjadi wabah yang melanda seluruh warga dunia. Kemunculannya telah menguji sistem kesehatan dan solidaritas negara-negara, termasuk munculnya berita-berita hoax dan ocehan miring dari pihak-pihak tidak bertanggung jawab.
  •  
  • Saya haqqul yaqin. Seperti juga saya, kita semua telah membaca, melihat, atau sekadar mendengar permohonan pemerintah untuk tetap tinggal di rumah selama pandemi Covid-19 sampai selesai penanganannya. Media berkali-kali memberitakan mengenai bahaya virus tersebut, penanganan, dampak terhadap perekonomian, dan segala yang terkait dengan wabah yang muncul pertama kali di Wuhan ini.
  •  
  • Pemerintah pun bergerak. Dimulailah pembatasan sosial berskala besar mengenai penanganan Covid-19 dalam bentuk peliburan sekolah dan tempat kerja, pembatasan kegiatan keagamaan, pembatasan kegiatan di tempat dan fasilitas umum, pembatasan kegiatan sosial dan budaya, pembatasan moda transportasi, pembatasan kegiatan lainnya khususnya terkait aspek pertahanan dan keamanan, telah dilakukan.
  •  
  • Peraturan-peraturan baru terus bermunculan, menteri agama dan semua lapisan struktur pemerintah sampai ke kepala desa bersusah payah membantu menghambat meluasnya penyebaran virus ini. Permintaan untuk tetap di rumah digalakkan oleh banyak pihak melalui berbagai media.
  •  
  • Namun, respon masyarakat rupanya cukup beragam. Sebagian masyarakat menanggapi dan menyikapi sepenuh hati, sebagian pula acuh tak acuh seolah wabah ini hanya muncul tak lebih dari sekadar dongeng belaka.
  •  
  • Jumat Malam, 3 April 2020, saya diminta ngereng Neng Alfu Laila (istri almarhum K. Zammiel EL-Muttaqien) ke salah satu dokter spesialis di Sumenep. Lho, ‘kok? Ya ‘kan fasilitas kesehatan dan fasilitas lain dalam rangka pemenuhan pelayanan kesehatan adalah termasuk dalam pengecualian pembatasan sosial dari pemerintah. Jadilah saya keluar, ngereng beliau ke rumah sakit.
  •  
  • Saya juga yakin, sebagaimana yang saya lihat di sepanjang jalan dari Pondok Pesantren Annuqayah sampai ke Sumenep Kota, kita masih melihat orang yang tetap keluar rumah dan duduk-duduk di kedai kopi. Beberapa anak muda nongkrong di pinggir jalan sampai jam 10 malam. Atau kegiatan lain di luar rumah, ketika pemerintah sudah meminta kita untuk ‘Di Rumah Aja’ kata Telkomsel, atau ‘DiRumahLebihBaik’ kata si XL tak kalah saing.
  •  
  • Sebelum liburan pesantren dimajukan, santri telah berkali-kali diminta oleh pengasuh untuk tetap stay di rumah selama liburan panjang ini. Berkali-kali pula dibekali dengan penyuluhan kesehatan dan antisipasi penyebaran virus covid-19.
  •  
  • Artinya, sudah banyak sekali kita menerima pesan mengenai pandemi ini, lalu pertanyaannya, ribuan santri yang dipulangkan ini harus bersikap bagaimana? Sebagian di lingkungan mereka, mungkin ada yang tetap santai keluar rumah, menuju keramaian-keramaian, atau bahkan jalan-jalan berwisata bersama keluarga. Dikasih wanti-wanti pemerintah, sudah. Fatwa-fatwa MUI, sudah dapat dipahami. Pengasuh, sudah pula. Pengurus apa lagi.

“Sebelum liburan pesantren dimajukan, santri telah berkali-kali diminta oleh pengasuh untuk tetap stay di rumah selama liburan panjang ini. Berkali-kali pula dibekali dengan penyuluhan kesehatan dan antisipasi penyebaran virus covid-19.”

  • Salah satu hal yang menjadi kehawatiran pengasuh adalah santri menjadi bagian dari masyarakat yang abai dengan masalah yang melanda dunia ini. Memang sulit sekali mau meluruskan barisan agar bisa satu komando. Semakin dilarang, semakin muncul komentar-komentar seputar larangan. Wah!
  •  
  • Padahal, wahai seluruh santri, mematuhi perintah negara adalah sebagian dari iman. Sebagaimana yang sering dikobar-kobarkan dalam berbagai acara yang digelar di pesantren: “Hubbul Wathan Minal Iman”. Bukankah mematuhi permintaan pemerintah untuk tetap di rumah adalah bagian dari bentuk hubbul wathan?“ Ikutilah Tuntunan dan pendapat pemerintah” begitu kata M. Quraish Shihab.
  •  
  • Tetap mengikuti imbauan pesantren untuk memperbanyak berdo’a, berdizikir, memohon keselamatan khususnya dari wabah covid-19. Tidak keluar rumah setidaknya 14 hari terhitung sejak pulang dari pondok, mengikuti protokol pemerintah terkait pencegahan Covid-19. Silakan kalian pilih, mau patuh pemerintah? kiai? iklan-iklan di TV? atau pilih ikut XL atau Telkomsel? Yang jelas ‘di rumah aja’ selama liburan. 
  •  
  • WalLaahu A’lam
  •  
  •    LAILATUL QOMARIYAH
  •    Ketua Pengurus Annuqayah Latee I 
Santri dan Pandemi