Kredit Foto oleh Idina Risk

Merdeka*

(Refleksi Ulang Tahun Kemerdekaan RI ke-76)

17 Agustus tahun empat lima

Itulah hari kemerdekaan kita

Hari merdeka, nusa dan bangsa

Hari lahirnya indonesia

Merdeka…!

Petikan lagu kemerdekaan mulai terdengar dimana-mana. Memasuki bulan Agustus, momen yang paling diperbincangkan adalah Agustus-an, begitu kita menyebutnya. Saat kecil dulu, saya kira Agustusan itu ‘hanya’ lomba balap karung, makan kerupuk, lengkap dengan serba-serbi merah putih disana-sini. Beranjak memasuki sekolah dasar akhirnya saya paham bahwa Agustusan adalah momen perayaan kemerdekaan Indonesia.

            Bangsa Indonesia yang terjajah selama beratus-ratus tahun akhirnya bisa meraih kemerdekaan pada tanggal 17 agustus 1945, 76 tahun yang lalu. Tenaga, air mata, bilah bambu, dan berbagai intrik lainnya menjadi saksi bisu perjuangan para pahlawan untuk menegakkan kemerdekaan di tanah nusantara. Pengorbanan besar tidak menyalahi hasil yang berkibar; kemerdekaan. Setelah 76 tahun berlalu pasca penjajahan, pertanyaan pertama, apa yang ‘tersisa’ dari bangsa Indonesia?

            Indonesia sudah cukup ‘berumur’ untuk tetap bertahan dengan segala kecarut-marutannya; korupsi, kolusi, dekadensi moral generasi. Yah, tiga hal yang telah saya sebutkan tidak perlu untuk dipertanyakan kembali. Berbagai media baik secara lisan maupun tulisan sudah sering membahas penyakit di tubuh Indonesia tersebut. Pembahasan saja tentu tidak cukup, harus ada solusi yang bukan sekadar wacana, melainkan butuh tindakan nyata. Tidak usah muluk-muluk dengan hal-hal besar, coba kita sebutkan 3 hal kecil yang patut dipertahankan dan dikembangkan; bersyukur, melebur, dan pantang mundur.

            Mensyukuri karunia yang melimpah ruah agar kita tidak selalu menatap hal-hal yang –anggaplah– Wah!. Ketika rasa syukur melangit maka tidak akan ada kesombongan membukit. Tidak akan ditemukan kasus pem-bully-an, insecure terhadap diri sendiri, apalagi korupsi dan kolusi. Sehingga terciptalah pandangan kesetaraan; kita semua sama di mata manusia. Asas persaudaraan pun akan semakin kuat. Meski begitu, bukan lantas kita harus stagnan dalam konsep ‘sama’ dan menghindari usaha menjadi lebih baik. Justru dari kebersamaan itu kita harus terus maju dalam kebaikan dan perbaikan. Saling membantu dan mengoreksi, bahu membahu menjadi lebih baik untuk kedepannya. Kuatkan Indonesia menjadi bangsa yang terus tumbuh dan tetap tangguh.

            Pertanyaan kedua sekaligus terakhir, apakah kita bisa menjadi Indonesia yang senantiasa tumbuh dan tangguh menjadi lebih baik? Tentu pasti bisa asal kuatkan usaha dan do’a. Kegagalan, pengabaian, dan pandangan remeh kadangkala menjadi penghalang untuk konsisten atau istiqamah. Terus melangkah maju pun menjadi berat. Tapi mari coba ingat-ingat, memangnya apa yang telah kita lakukan untuk Indonesia? Atau bahkan untuk diri kita sendiri? Jika kekosongan dan kejenuhan menjadi jawaban, maka lekaslah bangkit dan bulatkan tekad untuk senantiasa berusaha.

            Sebagaimana ungkapan B.J Habibie “Keberhasilan bukanlah milik orang yang pintar. Keberhasilan adalah kepunyaan mereka yang senantiasa berusaha.” Merdeka bukan hanya lepas dari penjajah. Berjuang bukan hanya dengan perang. Berusaha menjadi santri, pelajar, anak, dan rakyat yang baik juga salah satu perjuangan. Dan menunaikan apa yang telah kita wacanakan juga bentuk dari kemerdekaan. Jika berhenti di sebatas wacana, maka berarti kita belum benar-benar  merdeka. Karena Indonesia tidak butuh retorika semata. Salam literasi.

Dirgahayu Indonesia!

*Nuril Kamiliyah, FLP P2AL II, 16 Agustus 2021.

Merdeka

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *