JADI ORANG JANGAN 'SOK"!

  •      “Santre mon neng masyarakat jha’ da’mangada’, ken mon esoro jha’ buru,” (santri kalau di tengah masyarakat jangan ‘sok’ mengedepankan diri, tapi kalau diberi amanah jangan kabur).
  •     Demikian kira-kira nasihat –atau statement, jargon atau entah apalah namanya- yang kerap kali saya dengar semenjak nyantri di Pondok Pesantren Annuqayah Latee. Intinya, nasihat itu mengalir begitu saja. Tak henti-henti. Dari hulu –mungkin belum dan tak akan sampai- ke hilir.
  •       Barangkali, itu memang menu utama yang mesti dan pasti dicicipi hingga mendarah daging di kalangan santri latee. Nah, ‘darah daging’ inilah yang kemudian menjadi karakter yang melahirkan prinsip sosial-masyarakat santri latee idzaa raja’uu ilaihim.

“santri kalau di tengah masyarakat jangan ‘sok’ mengedepankan diri, tapi kalau diberi amanah jangan kabur. “

  •        Mengenai hal ini, ada cerita berharga yang penulis pernah alami. Cerita ini terjadi ketika acara pembagian rapor sekaligus penobatan santri berprestasi Madrasah Diniyah semester gasal, beberapa bulan lalu. Kala itu, beberapa undangan yang terdiri dari guru-guru Madrasah Diniyah sudah datang dan menempati tempat yang disediakan panitia. Sembari menunggu pengasuh rabu (datang), pra acara dimeriahkan oleh shalawat Al-Banjari Hubbul Basyir.
  •       Setelah beberapa lagu dimainkan, santri dan undangan yang sudah duduk sejak awal berdiri takzim. Ini pertanda bahwa pengasuh akan rabu. Dan benar, Kiai Abd. A’la, putra Kiai Ahmad Basyir Abdullah Sajjad, yang rabu pertama kali. Melihat Kiai A’la rabu, panitia menyambut dan ngatoragi (mempersilakan) beliau duduk di atas panggung. Tempat khusus pengasuh. Langsung saja beliau mengambil posisi di ujung barat panggung. Sekalipun panitia ngatoraghi beliau untuk duduk di tengah panggung, akan tetapi beliau lebih kasokan (senang atau suka) duduk di ujung panggung.
  •      Kemudian, Kiai Musthafa Erfan, menantu Kiai Basyir, yang datang setelah Kiai A’la. Demi menghormati kedatangan Kiai Musthafa, Kiai A’la berdiri dan ngatoraghi Kiai Musthafa duduk di sebelah kanan beliau, kebetulan waktu itu paggung menghadap ke utara, jadi Kiai A’la ngatoraghi Kiai Musthafa duduk lebih ke tengah daripada beliau. Namun, Kiai Musthafa tak kasokan dan memilih untuk duduk di posisi paling ujung. Maka, terjadilah ‘tarik-ulur kedudukan’ antara beliau berdua. Akhirnya Kiai A’la mengalah dan pindah posisi agak ke tengah panggung.
  •      Jelang beberapa saat, rabu Kiai A. Hanif Hasan, putra Kiai Hasan Bashri yang diambil menantu oleh Kiai Basyir, beliau masih termasuk bagian keluarga Bani Syarqawi. Kejadian serupa terjadi lagi. Bedanya, kali ini melibatkan tiga orang pengasuh. Dari kejadian saling ‘tarik-ulur kedudukan’ yang kedua membuahkan hasil akhir, Kiai A’la pindah lagi, sehingga kali ini beliau tepat berada di tengah paggung. Kiai Musthafa tetap di posisi awal, paling ujung. Dan Kiai Hanif berada di antara keduanya.
  •    Baru setelah itu, tiba Kiai Ainul Haq, menantu Kiai Abd Basith Abdullah Sajjad, sebagai pamungkas. Tak ada kejadian seperti di awal, sebab Kiai Ainul langsung mengambil posisi di sebelah timur Kiai A’la.
  •  ***
  •        Dari pengalaman tersebut, penulis mendapat pelajaran yang begitu berharga dan tak terlupakan. Jika kita pikir kembali, bukankah sudah sepantasnya beliau, Kiai A’la, menempati posisi di tengah panggung sebab beliau adalah putra almaghfurlah Kiai Basyir, pengasuh Latee sebelumnya? Akan tetapi mengapa beliau memilih duduk di posisi yang ‘bukan seharusnya’? Dalam benak penulis, alasan beliau melakukan hal itu adalah mengajarkan kita bersifat tawaduk dan menjauhi sifat ke‘aku’an.
  •       Begitulah figur kiai-kiai kita di pesantren, mereka mendidik para santri tidak hanya ‘omong doang’, tetapi mereka mendidik para santri dengan perilaku dan akhlak mereka. Inilah teladan yang diajarkan nabi kita, Muhammad Saw., empat belas abad lalu.
  •      Pesannya, bahwa para santri, khususnya santri Latee, jangan pernah merasa menjadi orang yang paling penting dan paling pantas, sehingga timbul sifat ke‘aku’an yang ini tidaklah terpuji. Namun di sisi lain, kita janganlah menjadi pengecut dan kabur dari amanah serta tanggungjawab yang telah diembankan kepada kita.
  •  Wallahu A’lam

 

  •    RIQQI RAMADHAN
  •    Konten Kreator a latee media.
Jadi Orang Jangan ‘Sok’!