Kenapa yang jadi nabi pilihan itu Muhammad?
- Waktu itu saya masih berstatus mahasiswa baru di Institut Ilmu Keislaman Annuqayah (INSTIKA), yang dikenal dengan kampus Tatakrama. Sebagai mahasiswa baru yang katanya sedang berada pada masa-masa hangat berpikir, benar-benar saya praktikkan. Pertanyaan nakal sering saya lontarkan untuk memuaskan otak saya yang mulai gerah. Di antara pertanyaan itu adalah kenapa yang jadi nabi itu bukan saya, bukan bapak saya, atau minimal dari keluarga saya kalau tidak dari leluhur saya.
- Sejak saat itu, label mahasiswa ‘liberal’ mulai saya sandang. Hal ini berawal dari tanggapan bapak Dosen tentang pertanyaan saya.
- “Wah, ini nih kayaknya sudah mulai liberal,” ucap bapak dosen.
- Saya hanya senyam-senyum, sambil sesekali melirik teman mahasiswa saya yang sedang presentasi. Celingak-celinguk, bisik kanan bisik kiri.
- “Mampus kamu,” tentu dalam hati.
- Pertanyaan yang logis namun kurang tepat. Alias gak sopan. Mosok nabi yang begitu mulianya itu kok masih diperdebatkan.
- Alhasil, beberapa bulan yang lalu saya mendapatkan jawaban itu setelah membaca kitab Nurul Yaqin, salah satu kitab yang berisi tentang perjalanan Nabi Muhammad Saw., mulai dari nasab sampai peperangan yang beliau pimpin. Saya banyak menemukan keistimewaan-keistimewaan yang ada pada diri Nabi Muhammad Saw. Salah satunya, nasab beliau bersambung dengan nasab para pemimpin, nasab beliau bersambung dengan orang-orang yang semasa hidupnya tidak pernah melakukan zina, nasab beliau bersambung dengan nasab para nabi. Nah, kamu siapa? Berani-beraninya mempertanyakan kenabian Nabi Muhammad?
- Hehe.. Sori, Itu untuk saya kali.. Tapi juga berlaku bagi mereka-mereka yang masih ragu terhadap kenabian Muhammad Saw. Pun bagi mereka-mereka yang masih hangat-hangatnya berjibaku dengan pikiran mereka. Siapa lagi kalau bukan mahasiswa, khususan mahasiswa baru.
- Selain itu, sifat beliau luar biasa sempurna. Ini contohnya: Jika seseorang membencimu, bahkan meludahimu, apakah ketika orang itu sedang sakit kamu malah berempati, kemudian menjenguknya, mendoakan kesembuhannya? Haqqul yaqin gak akan. Dan hal itu tidak bagi pribadi Nabi Muhammad Saw. Beliau menjenguk mereka yang memusuhinya, mendoakannya. Sampai di sini, kamu masih mau menggugat?
- Contoh kedua, adakah kesabaran kita menyaingi kesabaran beliau? Semisal kamu sedang berdakwah di suatu desa. Kemudian kamu mengalami kesulitan, bahkan ancaman. Masih berani yang mau berdakwah? Masih berani menukar nyawamu dengan impian dakwahmu?
- Ini lagi, Nabi Muhammad sanggup melakukannya. Dan ancaman-anaman itu tidak hanya datang sekali, bahkan berkali-kali. Beliau dengan kesabarannya berpindah dari desa satu ke desa satunya lagi. Tidak pernah mengeluh, sambil berkata, “Mungkin mereka masih bebal. Tapi tidak keturunan-keturunannya nanti. Masih ada harapan.”
- Subhanallah… Sungguh mulianya dirimu wahai panutan.
- Atau jika masih ingin memperpanjang perdebatan, semisal mengatakan, “Leh wong sudah Allah yang menyetir, pastinya ya gak bakal keseleo.”
- Ini sudah masuk dalam ranah yang mulai rumit. Seakan Allah itu pilih-pilih. Dan yang pastinya yang namanya seorang nabi itu tidak akan terlewat dari tuntunan-Nya. Beda dengan kita-kita ini yang mesti berusaha sekuat dan senekat mungkin untuk mendapatkan tuntunan itu. Wah.. wah.. sudah mulai nih nakalnya. Hehehe…
“Jika seseorang membencimu, bahkan meludahimu, apakah ketika orang itu sedang sakit kamu malah berempati, kemudian menjenguknya, mendoakan kesembuhannya? Haqqul yaqin gak akan. Dan hal itu tidak bagi pribadi Nabi Muhammad Saw. Beliau menjenguk mereka yang memusuhinya, mendoakannya. Sampai di sini, kamu masih mau menggugat?”
- Selain memang sudah ketentuan yang Mahasegala, selebihnya kita tidak bisa menolak. Tetapi, apa bisa seorang nabi itu gak jelas sambungan nasabnya, tidak teratur kesabarannya, tidak istikamah ibadahnya. Seperti kita-kita ini… Saya nanya, ada yang tahu nasab dirinya sampai tujuh turunan? Ada yang hafal?
- Kalau dirimu saja gak tahu, leh lalu siapa lagi yang tahu? Apa mungkin orang-orang akan menggali sejarahmu, melakukan penelitian besar-besaran untuk menguak kisah nasabmu, yang kamu sendiri gak tahu. Nah di situlah letak keistimewaan Nabi Muhammad. Tidak sembarang orang bisa menjadi pilihan. Apalagi sebagai utusan. Saya saja tentu masih milah-milih siapa yang mau dijadikan teman. Ini masih tingkat manusiawi loh. Apalagi setingkat urusan Allah.
- Itu masih tentang nasab. Kesabaran, keistikamahan, dan kesemangatan itu lain lagi. Kalau di tingkat nasab kalian masih amburadul, mana bisa jadi seorang nabi. So, gak perlu berpikir macam-macam lah. Kita terima apa adanya..
- Semoga kita termasuk mereka-mereka yang dirindukan beliau, dan tercatat dalam katalog umatnya yang akan mendapat syafaatnya
- WalLaahu A’lam
- PARTOMO
- Pustakawan PP. Annuqayah Latee
Kenapa yang Jadi Nabi Pilihan itu Muhammad?