TIRAKAT IBU

  • Kapan tidak meminta banyak
  • untuk ibu yang memberi banyak?
  • Kapan memberi banyak
  • untuk ibu yang tak meminta banyak?
  •  

####

  • “Ma’…”
  • “Mama’…”
  • “Ummi…”
  • “Ibu…”
  • “Mama…”
  • “Bunda…”

 

  • Itulah panggilan yang berbeda untuk orang yang pasti sama tulusnya. Tidak peduli betapapun yang terlihat adalah ibu yang galak, ibu yang posesif, ibu yang otoriter, ibu yang pemarah, ibu yang pengertian, ibu yang sabar maupun ibu yang baik hati. Semua ibu sama dengan kasih sayang melimpah namun terkadang disalahpahami oleh anak-anaknya sebagai bentuk ketidak-adilan ketika berbeda perlakuannya terhadap mareka (anaknya), sehingga ibu dianggap pilih kasih dan semacamnya.  
  •  
  • Mari kita luruskan kesimpulan yang terlalu dini ini dalam menggambarkan seorang ibu, pahlawan yang berperan sempurna dalam kehidupan seorang anak, pahlawan yang langkahnya selalu diniatkan sebagai bentuk ikhtiar membahagiakan keluarga. Bukankah memang seperti itu kenyataanya? betapa tidak, ibu yang selalu berusaha lebih banyak, memberi lebih banyak,  mencintai lebih banyak dan berdoa lebih banyak tanpa meminta sedikit apalagi banyak.
  •  
  • Siapapun yang seringkali berpikir bahwa dirinya merasa sepi, merasa sendiri, dan tak mendapat dukungan dari seorang ibu, saya ingin bercerita.
  •  
  • “Benar! terkadang ibu tidak bertindak adil pada anaknya.” Kalimat ini penuturan teman saya. Padahal, dalam melihat sesuatu tidak dibenarkan hanya melihat pada satu sisinya saja, misalnya, anak pertama selalu dipuji karena selalu berprestasi, anak terakhir dimanja, anak kedua ditempa perasaannya, selalu dimarahi pada setiap kesempatan ketika berbuat suatu kesalahan, berbeda dengan anak terakhir yang selalu dibenarkan tindak tanduknya. Inikah yang dimaksud tidak adil? meskipun sebenarnya secara psikologis anak kedua dibenarkan merasa dibedakan karena posisi kelahirannya ada diantara dua orang yang cukup mendominasi (anak pertama dan terakhir), sehingga bertafakur selalu dianjurkan untuk mengatasi kesalah-pahaman yang terjadi.
  •  
  • Siapakah anak pertama, terakhir dan kedua?
  •  
  • Mari kita bayangkan, anak pertama adalah perempuan berusia 23 tahun dengan segudang prestasi selama menjadi pelajar. Sekalipun cita-citanya tidak jelas, tujuan hidupnya sangat jelas. Dia siap menjadi tempat pulang bagi saudara-saudranya kelak, siap memberi yang saudara-saudaranya butuhkan. Apapun untuk kebaikan sudara-saudaranya, itulah prinsip dalam hidupnya. Dia juga merupakan orang yang lurus, tidak bertindak di luar aturan, di mana dia berpijak, di situlah langit dijunjung. dicaci atau dipuji?
  •  
  • Anak terakhir, anak kecil berusia berusia 3 tahun sesuai kebutuhan psikis si kecil yang memang selalu harus diperhatikan, butuh diawasi tumbuh kembangnya. Lalu, anak kedua adalah remja tanggung berusia 16 tahun, dia anak laki-laki satu-satunya dan laki-laki kedua setelah ayahnya. Dia tentu harus ditempa lebih keras, dididik lebih keras (bukan kasar) dia harus lebih mengerti dirinya agar bertanggung jawab atas hidupnya dan hidup orang lain (suatu saat), dia harus ditampar dengan kenyataan pahit, agar tahu rasanya berjuang, agar tahu dalam berjuang ada saatnya akan terjatuh dan terbuang. Itulah tirakat ibu, pahlawan peradaban yang melahirkan orang hebat dari proses yang hebat.
  •  
  • Saya tanyakan sekali lagi, inikah ketidak-adilan? tidak ada manusia yang lebih mengerti bagaimana memperlakukan anak dibanding Ibu.
  •  
  • Masihkah akan mengeluh? setelah banyak meminta tapi tidak sedikitpun memberi?
  •  
  • Selamat Hari Ibu
  • 22 Desember 2020

  • “Hati-hati, memberi bukan selalu soal materi!”

  •  

  •  
  •     Isti’anatul Awwaliyah
  •     Annuqayah Latee I
TIRAKAT IBU