26 November 2021 kemarin, Madrasah Diniyah Annuqayah Latee (Madal) sukses menyelenggarakan Ujian Akhir Semeseter (UAS) Gasal hingga malam senin (28/11). Ujian dalam waktu tiga malam tersebut dimulai setelah jamaah Maghrib dan setelah jamaah Isya. Materi yang diujikan untuk kelas Isti’dadi dan kelas 1 Ibtidai adalah Tauhid, Fiqih, Akhlaq, Khat Imla’ dan Tajwid, sedangkan kelas 2 dan 3 Ibtidai adalah Fiqih, Ahklaq, Tarikh, Nahwu dan Sharraf, sedangkan untuk kelas 5 dan 6 sebagai kelas paling senior diuji dengan mata pelajaran Fiqih, Tafsir, Hadits, Nahwu dan Akhlak. Menurut Ustaz Moh. Mansur selaku Kepala Madal mengatakan bahwa ada beberapa syarat murid Madal untuk mengikuti ujian yakni tidak bermasalah dengan instansi Madal itu sendiri seperti masalah ketidakhadiran dan menyelesaikan hafalan wajib. “Batas minimal hafalan yang harus diselesaikan untuk mengikuti ujian ialah untuk Isti’dadi 30 bait Kitab Aqidatul Awam, untuk kelas 1 yakni 40 bait dan kelas 2 tidak ditentukan batas minimal dan maksimal, siswa menghafalkan beberapa wazan dan mauzun tertentu dari Fiil Bina’ Shohih untuk satu semester. Untuk kelas 3, 4, 5 dan 6 selama 2 semester harus menyelesaikan 80 bait, kelas tiga menghafalkan kitab Imrithi dan untuk kelas 4, 5 dan enam menggunakan kitab Alfiyah Ibnu Malik sebagai hafalan wajib.” Ujarnya. Ustaz Moh. Mansur menambahkan bahwa murid yang tidak menyelesaikan hafalan wajib untuk semester pertama tidak diperkenankan untuk mengikuti Ujian Akhir Semester (UAS) Gasal.
Ujian kali ini diikuti oleh 1013 peserta dengan persentase 10% yang tidak mengikuti ujian dengan tanpa keterangan. Peserta menempati kelas masing-masing selama ujian. Khairul Anwar sebagai salah seorang murid Madal kelas 5 B mengatakan bahwa ujian kali ini sangat berbeda dengan tahun sebelumnya dengan adanya persyaratan hafalan wajib tengah semester. “Dengan adanya hafalan paruh tahun tersebut sebagai persyaratan, saya merasa sedikit terbebani karena selain harus belajar ekstra, saya harus menghafalkan.” pungkasnya. Tanggapan itu berbeda dengan para alumni Madal yang masih menjadi santri aktif seperti Saiful Hukama’. Menurut santri yang menjabat pengurus Departemen Peribadatan, Takmir, dan SKIA (Taskia) tersebut bahwa persyaratan mutlak untuk membangun mentalitas santri Latee yang sejak dulu dipertahankan adalah kompetensi membaca kitab. “ Hafalan wajib sebagai persyaratan ujian akan memberi nafas segar bagi intelektual religius kitab kuning yang saat ini mulai redup.” ujar santri asal Pademawu Pamekasan ini.
Berbanding terbalik dengan komentar positif tadi, salah seorang siswa yang tidak ingin disebutkan namanya tidak mengikuti ujian Madal karena hafalan wajibnya tidak mencapai target, ia mengatakan keberatan terhadap peraturan baru ini. Zainuddin sebagai salah satu pengawas ujian Madal mengatakan bahwa sampai ujian berakhir situasi terkendali. “Situasi aman terkendali, hingga saat ini (malam ke-3 ujian ketika diwawancarai) tidak ada masalah apapun lancar saja. kalau masalah kecil seperti gaduh ya..itu biasa.” ujar pria yang akrab dipanggil Udin ini. (Alif N)