
Tradisi membatik yang memang merupakan budaya asli Indonesia disadari betul oleh kalangan pesantren sebagai warisan Nusantara yang harus dipelihara. Oleh karena itu, pada momen FHSN 21 Lokakarya Membatik diadakan yang dibimbing langsung oleh K. Humaidi Ch. dari Sabajarin pada Senin (25/10). Ahmad Fajrul Azri Hidayat sebagai salah satu panitia menyatakan bahwa membatik harus tetap dijaga mengingat para pembatik di Madura mulai langka. “Hal penting lainnya yaitu perlu adanya regenerasi membatik, santri harus serba bisa, tidak hanya lukisan tapi juga membatik juga menjadi keunggulan pesantren.” Fajrul menambahkan bahwa batik setidaknya dapat menjadi program baru di Pesantren. “Setiap tahun pada Hari Santri harus ada hal baru sehingga Pesantren tidak hanya itu-itu saja, namun juga menjaga tradisi.” Pungkas Fajrul.
Moh. Daniel Maulana Yusuf selaku ketua panitia mengatakan bahwa program Loka Karya Membatik sebagai program baru mendapat sambutan positif dari Pengurus Pusat Pesantren “Respon waka 2 sangat baik, bahkan sangat antusias bagaimana Lokakarya Membatik betul-betul meriah dan membuat santri semakin semangat dalam berkarya.” ujar salah satu Pengurus Rayon Al-Bukhari ini. Potensi membatik di pesantren Annuqayah Latee memang tidak begitu kentara sebagaimana program yang lain. Namun, Daniel tetap bersyukur karena program membatik memang masih baru di Latee. Waktu yang diberikan bagi peserta untuk membatik hanya selama 3 hari dengan diberikan kebebasan dalam memilih macam batik yang akan dilukis.
Nur Kholis Majid sebagai salah satu peserta Lokakarya Membatik masih mengaku masih baru dalam dunia membatik. “Ya saya merasa kesulitan karena membatik adalah hal baru bagi saya di sini, di rumah saya juga tidak pernah mambatik. Namun, saya sangat senang bisa mengikuti acara ini karena bisa membangun potensi saya dalam membatik.” tuturnya. Terdapat lima peserta dalam acara tersebut. Acara dimulai dengan penyajian materi tentang Batik oleh K. Humaidi Ch. Yang kemudian peserta langsung melakukan praktik yang bertempat di Halaman Utama PPA. Latee.
K. Hunaidi Ch menyatakan bahwa dengan membatik santri telah menjaga tradisi nenek moyang pada masa lalu. “Dulu sesepuh kita berkarya dan kita yang merawat karya mereka, dulu batik malamnya itu memakai tanah cellot (red: lumpur). Kainnya dijemur” penyaji juga menambahkan peradaban Nusantara dulu juga maju. “Kita kini apakah kini mau jadi penonton apa jadi konsumen. sebagai santri kalian harus menjaga itu.” dawuh beliau. (Alif N)